Pada akhirnya, “The Odyssey” tampaknya akan menjelma sebagai sebuah mahakarya seni dengan daya hidup yang abadi—sama seperti bagaimana puisi epik karya Homer mampu bertahan selama hampir tiga milenium.
Lahir sekitar abad ke-8 Sebelum Masehi, puisi epik Odyssey karya Homer telah menjadi mahakarya sastra yang memberi makan spiritualitas begitu banyak generasi pembaca. Lebih dari 12.000 bait puisinya telah melampaui batas geografis Yunani untuk menjadi salah satu fondasi sastra Barat.
Di sinilah perjalanan pulang Odysseus yang abadi telah diceritakan kembali selama hampir tiga ribu tahun dalam berbagai bentuk: mulai dari teater kuno, lukisan Renaisans, opera, puisi, novel, hingga sinema kontemporer.
Setiap zaman selalu menemukan sudut pandang baru dalam pelayaran tersebut. Ini bukan sekadar tentang kerinduan akan tanah air, melainkan sebuah kisah tentang perang dan perdamaian, tentang memori dan identitas, serta tentang perubahan diri setelah melewati trauma dan kehilangan—di mana sisi terdalam dari takdir manusia dikupas begitu tuntas.
Pahlawan atau Jiwa yang Terkutuk?
Satu abad pasang surut dunia sinema telah menyaksikan tidak sedikit sineas yang mencoba mengadaptasi Odyssey. Setiap karya berdialog dengan epik Homer dan menerjemahkan cerita klasik tersebut ke dalam bahasa visual mereka sendiri.
Film The Odyssey (1997) karya Andrei Konchalovsky mencoba menjaga keaslian versi aslinya, mereka ulang perjalanan sepuluh tahun kembali ke Ithaca yang penuh dengan dewa-dewi, monster, dan keajaiban.
Sementara itu, dalam O Brother, Where Art Thou? (2000), Coen Bersaudara dengan berani memindahkan Odysseus ke Amerika era Depresi Besar, mengubah mitologi Yunani menjadi petualangan komedi hitam yang kental. Di sisi lain, The Return (2024) karya Uberto Pasolini justru menanggalkan sebagian besar elemen mitologis untuk menggali lebih dalam luka perang dan rasa keterasingan seorang pria setelah puluhan tahun meninggalkan kampung halaman.
Christopher Nolan pun memasuki ruang dialog tersebut. Ia hadir sebagai seseorang yang tumbuh besar bersama lembaran-lembaran epik Odyssey, dengan obsesi khasnya terhadap konsep waktu dan identitas manusia.
Di bawah arahan Nolan, kisah sang pahlawan di balik strategi Kuda Troya ini dimulai justru setelah kemenangan gemilang di pulau yang awalnya dianggap mustahil ditaklukkan tersebut. Odysseus bersama pasukannya mengembangkan layar untuk kembali ke tanah air mereka, Ithaca.
Namun, mereka terombang-ambing tanpa pernah sampai ke rumah, karena pelayaran itu harus menghadapi rintangan yang tak berkesudahan.
Sementara itu di Ithaca, Penelope, istri Odysseus, tetap setia menanti suaminya selama dua puluh tahun. Ia harus memutar otak untuk bertahan dari kejaran 108 pelamar yang datang menyeberangi laut demi meminangnya.
Putra mereka, Telemachus, yang kini telah tumbuh dewasa, dengan nekat memulai perjalanan demi mencari secercah informasi tentang sang ayah yang hilang tanpa kabar.
Banyak adaptasi yang memandang The Odyssey murni sebagai petualangan megah tempat manusia bertarung melawan dewa dan makhluk mitologis. Nolan tidak menolak esensi tersebut.
Karyanya tetap memberikan porsi besar bagi adegan-adegan petualangan di samudra luas, terdampar di pulau-pulau misterius, hingga konfrontasi dengan sederet makhluk yang seolah keluar dari mimpi buruk.
Hanya saja, dalam bidikan kamera Nolan, Odysseus tidak lagi digambarkan sebagai pahlawan yang selalu cerdik, angkuh, dan agung. Benar bahwa ia adalah ahli strategi yang mengubah arah Perang Troya.
Namun di balik kejayaan itu, ia adalah jiwa yang penuh luka, terjebak dalam dilema moral, duka, dan penyesalan yang mendalam.
Kemenangan tidak membawa kebebasan bagi Odysseus; sebaliknya, itu menjadi awal dari rantai siksaan mental selama bertahun-tahun. Rasa bersalah dan keputusan-keputusan yang tidak bisa diubah terus menghantui pikirannya tanpa ampun.
Oleh karena itu, The Odyssey versi Nolan tidak bercerita tentang perang antara manusia melawan dewa, atau sekadar perjalanan pulang biasa. Ini adalah kisah tentang perang manusia melawan memorinya sendiri, melawan ego yang telah hilang, tentang kesetiaan, dan tentang harapan yang diuji oleh sang waktu.
Jalan pulang Odysseus, dalam satu aspek, adalah perjalanan untuk menghadapi dosa-dosa yang telah ia perbuat. Di titik itu, pujian, lagu kejayaan, dan cerita-cerita yang melegenda tidak lagi mampu menutupi kekejaman perang yang telah merenggut nyawa begitu banyak makhluk tak berdosa.
Homer bercerita tentang kepulangan sang pemenang. Nolan membongkar hakikat dari kemenangan itu dan menanggalkan topeng dari mereka yang dipuja sebagai pahlawan.
Runtuhnya Troya berarti ribuan nyawa jatuh ke dalam kesengsaraan. Prajurit koalisi Yunani ditampilkan dengan noda moral yang pekat—menabur kekerasan atas nama keadilan dan menodai hukum-hukum suci.
Strategi kuda kayu memang membawa Odysseus masuk ke dalam sejarah epik, tetapi strategi itu juga menjadi belenggu yang membuat Raja Ithaca tersebut tidak bisa kembali ke kehidupannya yang dulu. Film ini tentu tidak menolak pencapaian Odysseus, namun enggan melihatnya sebagai kejayaan yang harus dirayakan dengan sukacita.
Nolan membawa karakter dari puisi kuno ini menjadi sangat dekat dengan penonton modern lewat visual yang kental akan semangat anti-perang dan nilai kemanusiaan. Kita disajikan sosok Odysseus yang lelah, rapuh, meragukan diri sendiri, bisa berbuat salah, terkadang bertindak karena keangkuhan hingga membiarkan emosi mengalahkan logika, serta momen-momen intim saat ia runtuh akibat pilihan hidupnya sendiri.
‘All In’ ala Christopher Nolan
Sudut pandang tersebut membuat film ini terasa jauh lebih humanis dibanding adaptasi-adaptasi sebelumnya. Elemen mitologi tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi latar belakang untuk melukis gejolak batin sang karakter.
Cyclops bukan lagi sekadar monster raksasa bermata satu, dan Siren bukan cuma sekadar makhluk air dengan nyanyian penggoda. Mereka adalah ujian yang diletakkan takdir di hadapan Odysseus.
Sebelum bisa berkumpul kembali dengan keluarganya, Odysseus dipaksa untuk menghadapi kekejaman perang secara jantan, menemukan kembali dirinya yang dulu saat berangkat berperang, dan memaafkan dirinya sendiri demi mendapatkan kedamaian.
Melalui The Odyssey, Nolan memamerkan hampir seluruh kemampuan kendali bahasa sinematiknya yang telah membesarkan namanya. Film ini menjadi sebuah pengalaman menonton yang nyaris sempurna, dibangun dari visual yang memukau, musik yang menghipnotis, dan rasa takjub luar biasa yang jarang berani dikejar oleh proyek-proyek Hollywood modern saat ini.
Karya ini masih mempertahankan struktur narasi non-linear yang menjadi ciri khas Nolan. Namun kali ini, konsep waktu bukan lagi teka-teki yang harus dipecahkan penonton seperti dalam Memento atau Tenet.
Potongan memori tentang Troya dan kilas balik yang berkelindan dengan realitas membuat setiap insiden di jalur pulang selalu dibayangi oleh sisa-sisa perang yang telah lalu.
Masa lalu hadir seperti luka yang terus berdarah, tak henti-hentinya mendominasi emosi sang Raja Ithaca. Alur film ini pun terasa lebih lambat dibandingkan dengan film epik aksi lainnya.
Tidak sedikit adegan yang dihadirkan murni hanya untuk memperlihatkan karakter berdialog dengan memorinya, dengan rasa bersalah, dan keraguan atas dirinya sendiri. Pengendalian tempo ini membuat ritme film terkadang menurun, menyisakan ruang-ruang senyap yang kelam.
The Odyssey menjadi film layar lebar pertama yang direkam sepenuhnya menggunakan kamera IMAX, sekaligus menjadi proyek dengan skala syuting luar ruangan (on-location) terbesar dalam karier sang sutradara genius ini. Prosesnya membentang setidaknya di enam negara, dengan sebagian besar adegan diambil langsung di lokasi asli—sebuah keputusan berisiko yang terkesan “gila”.
Nolan dan krunya memaksimalkan penggunaan latar nyata alih-alih bergantung pada green screen. Berkat hal tersebut, dunia mitologi dalam bait-bait puisi Homer berhasil dihidupkan dengan sangat nyata di layar lebar modern.
Latar Gua Nestor, Pantai Voidokilia, Benteng Methoni, Acrocorinth, hingga kota pelabuhan Essaouira tampil begitu megah, primitif, dan indah hingga memesona mata.
Kamera Nolan sering kali menempatkan manusia dalam posisi yang sangat kecil dan terisolasi di tengah alam yang tak berujung. Ada bingkai-bingkai gambar yang hanya menyisakan perahu rapuh di tengah samudra yang mengamuk, atau bayangan Odysseus yang tersesat sendirian di gundukan pasir putih yang membentang hingga ke garis cakrawala.
Rasa kesepian sang Raja Ithaca hadir secara nyata lewat cara ia “ditelan” oleh ruang yang tak terbatas itu.
Namun, musik gubahan Ludwig Göransson adalah bumbu terbaik yang bisa ditemukan Nolan untuk karyanya ini. Alih-alih memilih aransemen orkestra simfoni yang megah dan kolosal—yang merupakan formula umum film-film epik—Ludwig Göransson justru menghadirkan melodi yang kental dengan atmosfer kuno.
Musiknya menyusup di setiap embusan angin, deburan ombak, deru langkah kaki, hingga lagu-lagu kepahlawanan yang menggema di medan laga.
Komponis berbakat ini memutuskan untuk “membangkitkan kembali” instrumen-instrumen Yunani kuno yang berusia ribuan tahun, khususnya aulos (alat musik tiup kuno) dan gong perunggu, demi menciptakan ruang audio yang sarat akan nuansa mitologis.
Dipenuhi oleh deretan aktor berkelas dalam dream cast yang solid, The Odyssey sukses meyakinkan penonton lewat performa emosional para pemainnya. Dan yang paling bersinar di antara semuanya, tentu saja, adalah Matt Damon.
Sang aktor kawakan berhasil menghidupkan sosok Odysseus yang cerdas sebagai seorang pemimpin, namun di dalam hatinya menyembunyikan jiwa yang hancur sebagai prajurit yang baru keluar dari medan perang, lengkap dengan trauma, obsesi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) yang tak kunjung sembuh.
Tatapan mata yang lelah, nada suara yang habis, dan keputusasaan di lubuk matanya sebagai pria yang terkuras habis keyakinan serta energinya, membuat karakter Odysseus versi Matt Damon terasa jauh lebih manusiawi dan dekat dengan penonton dibandingkan versi mana pun yang pernah ada.
Setelah hampir tiga milenium, kisah The Odyssey terbukti tidak pernah menua. Puisi epik Homer tidak selesai setelah bait ke-12.000, melainkan terus diinterpretasikan oleh generasi penerus lewat berbagai sudut pandang baru.
Dan The Odyssey di bawah tangan dingin Christopher Nolan, tampaknya akan segera menjadi keajaiban seni berikutnya dengan daya hidup yang juga abadi.