Polemik mengenai masa depan tata kelola sepak bola dunia semakin memanas. UEFA secara resmi menyatakan akan memboikot seluruh turnamen FIFA apabila Presiden FIFA Gianni Infantino tetap menjalankan rencana menjual sebagian kepemilikan komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Di tengah gelombang penolakan tersebut, Ketua Umum PSSI Erick Thohir justru menyatakan dukungan terhadap proposal FIFA karena dinilai dapat membuka peluang pendanaan yang lebih besar bagi negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perbedaan sikap antara UEFA dan PSSI menambah dinamika dalam pembahasan proposal FIFA yang akan diputuskan melalui mekanisme pemungutan suara oleh 211 asosiasi anggota.
UEFA Resmi Boikot FIFA
Keputusan UEFA diumumkan setelah pertemuan darurat virtual yang diikuti seluruh 55 asosiasi anggotanya. Dalam pernyataan resmi, UEFA menolak rencana FIFA membentuk FIFA Forward Enterprise (FFE), entitas baru yang akan mengelola hak siar, sponsor, tiket, lisensi, dan berbagai aset komersial turnamen FIFA, termasuk Piala Dunia. FIFA kemudian berencana menjual hingga 20 persen kepemilikan entitas tersebut kepada investor swasta.
UEFA menilai langkah tersebut mengubah Piala Dunia dari warisan olahraga menjadi aset investasi.
Federasi sepak bola Eropa juga menegaskan bahwa negara-negara anggotanya tidak akan mengikuti kompetisi FIFA selama proposal tersebut masih dijalankan. Sikap itu didukung secara bulat oleh seluruh anggota UEFA, termasuk Inggris, Jerman, Spanyol, Italia, Prancis, hingga Portugal.
Erick Thohir Dukung Proposal FIFA
Berbeda dengan UEFA, Ketua Umum PSSI Erick Thohir menyatakan Indonesia mendukung rencana FIFA tersebut.
Dalam wawancara dengan Sky News, Erick mengatakan sepak bola Indonesia masih membutuhkan dukungan pendanaan agar transformasi yang telah berlangsung dalam tiga tahun terakhir dapat terus berlanjut.
“Sepak bola Indonesia telah bertransformasi dalam tiga tahun terakhir. Kami telah melakukan pembenahan. Peringkat tim nasional naik dari 174 ke 118. Untuk melanjutkan transformasi ini, kami membutuhkan pendanaan,” kata Erick.
Menurut Erick, dana tambahan dari FIFA dapat mempercepat pembangunan sepak bola nasional, termasuk berbagai proyek pengembangan yang selama ini dijalankan PSSI bersama FIFA.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia telah bekerja sama dengan FIFA melalui pembangunan FIFA Hub di Jakarta sebagai pusat pengembangan sepak bola kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur.
FIFA Ingin Himpun Dana Baru
Melalui FIFA Forward Enterprise, FIFA menargetkan valuasi sekitar 20 miliar dolar AS.
Dengan menjual kepemilikan minoritas kepada investor, FIFA berharap memperoleh dana segar sekitar 4,2 miliar dolar AS yang selanjutnya digunakan untuk meningkatkan program pengembangan sepak bola di seluruh dunia.
Gianni Infantino juga menawarkan peningkatan dana pengembangan kepada asosiasi anggota FIFA apabila proposal tersebut disetujui.
Skema tersebut diklaim akan memperbesar investasi FIFA terhadap federasi nasional dalam beberapa tahun mendatang.
Mengapa UEFA Menolak?
UEFA menilai persoalan utama bukan sekadar investasi, melainkan prinsip tata kelola sepak bola.
Menurut konfederasi Eropa itu, Piala Dunia merupakan warisan olahraga global yang tidak semestinya menjadi instrumen investasi swasta.
UEFA juga mengkritik proses penyusunan proposal yang dinilai minim konsultasi dengan konfederasi maupun asosiasi anggota sebelum diumumkan kepada publik.
Selain itu, UEFA menilai masuknya investor swasta berpotensi menimbulkan tekanan komersial terhadap penyelenggaraan turnamen di masa depan.
CONCACAF dan AFC Ikut Sampaikan Kekhawatiran
Penolakan tidak hanya datang dari Eropa.
CONCACAF juga menyampaikan keprihatinan terhadap minimnya proses konsultasi sebelum proposal diumumkan. Sementara Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) meminta FIFA memberikan waktu lebih panjang untuk mengkaji aspek hukum, tata kelola organisasi, hingga dampak jangka panjang terhadap sepak bola dunia.
Meski demikian, hingga saat ini kedua konfederasi tersebut belum menyatakan akan mengikuti langkah boikot seperti yang dilakukan UEFA.
Perbedaan Kepentingan Negara Maju dan Berkembang
Perbedaan sikap antara UEFA dan Erick Thohir memperlihatkan adanya sudut pandang yang berbeda mengenai proposal FIFA.
Bagi UEFA, isu utama adalah menjaga independensi dan integritas Piala Dunia dari kepentingan investor.
Sementara bagi Indonesia dan sejumlah negara berkembang, tambahan pendanaan dinilai dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, kompetisi usia muda, pembinaan pelatih, hingga peningkatan kualitas sepak bola nasional.
Karena itu, keputusan akhir akan ditentukan melalui pemungutan suara yang melibatkan seluruh 211 asosiasi anggota FIFA. Jika mayoritas mendukung, proposal FIFA tetap dapat berjalan meski menghadapi penolakan keras dari UEFA.
Sumber foto: Instagram