Arsip Tag: Negeri

10 Perguruan Tinggi yang Cetak PNS Terbanyak, Kampus Negeri Mendominasi

[ad_1]

loading…

Profesi menjadi PNS masih menjadi incaran karena dianggap stabil dan bergengsi. Foto/Kementerian PANRB.

JAKARTA – Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) masih menjadi profesi yang diidamkan masyarakat karena dianggap stabil dan bergengsi. Menariknya, berdasarkan data hasil seleksi CPNS tahun 2019 dari Badan Kepegawaian Negara (BKN), ternyata ada sepuluh perguruan tinggi yang paling banyak melahirkan lulusan yang lolos menjadi PNS.

Pada seleksi CPNS 2019, tercatat sebanyak 138.791 peserta diterima sebagai calon pegawai negeri sipil, dan dari jumlah tersebut 30.555 di antaranya adalah lulusan dari sepuluh perguruan tinggi berikut.

Data ini menggambarkan bagaimana kampus-kampus tersebut berhasil mencetak lulusan yang kompetitif di dunia kerja pemerintahan.

Baca juga: 7 Jurusan Paling Dibutuhkan di Kementerian ESDM, Peluang Besar untuk CPNS

10 Perguruan Tinggi yang Cetak PNS Terbanyak

1. Universitas Terbuka (UT) — 9.436 Lulusan Lolos CPNS

Menempati posisi puncak, Universitas Terbuka (UT) mencatat prestasi luar biasa dengan 9.436 alumninya berhasil lolos CPNS. Angka ini jauh mengungguli kampus lain di bawahnya.

2. Universitas Gadjah Mada (UGM) — 3.452 Lulusan

Kampus legendaris asal Yogyakarta ini menempati posisi kedua. Ribuan alumninya sukses menembus berbagai formasi, mulai dari kementerian hingga lembaga negara.

Baca juga: 5 Jurusan dengan Peluang Cepat Jadi CPNS, Nomor 1 Paling Banyak Dibutuhkan Pemerintah

3. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) — 3.318 Lulusan

Sebagai kampus yang berfokus pada bidang pendidikan, UPI juga mencatat prestasi membanggakan. Banyak alumninya diterima menjadi guru, dosen, dan tenaga kependidikan di instansi pemerintah.

4. Universitas Sebelas Maret (UNS) — 2.468 Lulusan

Kampus yang berlokasi di Solo ini terus menunjukkan kiprahnya sebagai salah satu penghasil aparatur muda profesional. UNS menempati posisi keempat dengan lebih dari dua ribu alumninya berhasil lolos seleksi CPNS 2019.

5. Universitas Negeri Semarang (UNNES) — 2.403 Lulusan

UNNES dikenal dengan kekuatan di bidang pendidikan dan kependidikan. Tak heran, banyak lulusannya diterima sebagai tenaga pendidik dan staf di berbagai lembaga pemerintahan daerah maupun pusat.

6. Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) — 2.334 Lulusan

Berada di urutan keenam, UNY menunjukkan konsistensinya sebagai kampus pencetak pendidik unggul. Lulusan UNY mendominasi formasi

7. Universitas Diponegoro (UNDIP) — 2.017 Lulusan

Kampus yang terkenal dengan keunggulan di bidang hukum, teknik, dan administrasi publik ini menghasilkan lebih dari dua ribu alumni yang berhasil diterima menjadi PNS.

8. Universitas Negeri Makassar (UNM) — 1.789 Lulusan

Dari kawasan timur Indonesia, UNM menjadi kampus dengan jumlah lulusan terbanyak yang lolos CPNS. Pencapaian ini menunjukkan daya saing lulusan universitas di luar Pulau Jawa yang semakin tinggi.

9. Universitas Sumatera Utara (USU) — 1.708 Lulusan

Kampus kebanggaan masyarakat Medan ini menempati posisi kesembilan. USU menjadi representasi kuat perguruan tinggi dari Sumatera yang berhasil menempatkan ribuan alumninya di instansi pemerintahan.

10. Universitas Sriwijaya (UNSRI) — 1.630 Lulusan

Menutup daftar sepuluh besar, UNSRI dari Palembang membuktikan bahwa perguruan tinggi di luar Jawa juga berkontribusi besar dalam mencetak calon abdi negara yang kompeten.

Demikian 10 perguruan tinggi yang mencetak PNS terbanyak yang bisa menjadi pilihan kamu memilih kampus. Semoga bermanfaat.

(nnz)

[ad_2]

Setahun Politik Luar Negeri Prabowo

[ad_1]

loading…

Eko Ernada, Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember. Foto/Dok.SindoNews

Eko Ernada
Dosen Hubungan Internasional Universitas Jember

SETAHUN sudah Presiden Prabowo Subianto menakhodai politik luar negeri Indonesia. Dalam waktu singkat, ia menampilkan gaya diplomasi yang gesit dan simbolik: berkunjung ke Beijing, Riyadh, New Delhi, hingga Moskow. Ia membawa pesan baru—Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berani bersuara dalam percaturan global.

Masuknya Indonesia ke BRICS menjadi simbol ambisi itu: upaya menghidupkan kembali semangat Bandung 1955 di tengah dunia yang kini multipolar dan digital. Dalam berbagai forum internasional, Prabowo menekankan pentingnya kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan pertahanan nasional.

Pidatonya di Sidang Umum PBB tentang Palestina mempertegas posisi moral Indonesia: menentang kekerasan dan menegaskan hak rakyat Palestina atas kemerdekaan. Ketika Donald Trump menyapanya di KTT Perdamaian Gaza sebagai “a tough man with vision,” dunia melihat citra pemimpin kuat yang ingin menegaskan eksistensi Indonesia dalam politik global.

Namun di balik narasi kedaulatan itu, tersimpan ketegangan filosofis antara dua paradigma besar: realisme dan konstruktivisme. Dengan latar militer, Prabowo cenderung memandang dunia melalui kacamata realisme klasik—anarki internasional yang menuntut kekuatan sebagai jaminan eksistensi. Dalam pandangan ini, kedaulatan identik dengan survival: kemampuan bertahan di dunia yang keras dan penuh ancaman.

Tetapi politik luar negeri Indonesia sejak lama dibentuk juga oleh lapisan lain—konstruktivisme moral Sukarnois—yang melihat diplomasi sebagai perjuangan kemanusiaan. Sukarno memandang tatanan internasional bukan sekadar arena perebutan kekuasaan, melainkan panggung untuk memperjuangkan keadilan global. Dari sini lahir Konferensi Asia-Afrika 1955 dan Gerakan Non-Blok. Dalam tradisi ini, kedaulatan bukan sekadar batas teritorial, tetapi keberanian berpikir dan bertindak bebas di tengah tekanan kekuatan besar.

[ad_2]

Kisah Insipiratif UMKM Binaan BRI, Mengenalkan Batik Khas Tangerang Hingga Perluas Pasar ke Luar Negeri

[ad_1]

loading…

Datik Daryanti, pendiri Datik Batik dari Tangerang Selatan.

Anggapan bahwa batik hanya cocok dipakai oleh orang tua atau terkesan ‘kaku’ sudah tidak relevan lagi. Di era modern, batik justru semakin menemukan napas baru lewat tangan-tangan kreatif pelaku UMKM yang menyulap kain tradisional ini menjadi busana stylish, trendi dan bisa dipakai sehari-hari.

Salah satu sosok yang berperan menjaga sekaligus memperkaya tradisi batik adalah Datik Daryanti, pendiri Datik Batik dari Tangerang Selatan, Banten. Berawal dari kecintaannya pada batik, Datik yang sebelumnya seorang ibu rumah tangga memantapkan langkah untuk menekuni dunia fesyen dengan mendirikan Datik Batik pada tahun 2012.

Usaha ini semula dibina oleh Dinas Koperasi & UKM serta Dinas Perindustrian & Perdagangan Kota Tangerang Selatan. Perlahan namun pasti, nama Datik Batik kian dikenal masyarakat, terutama di wilayah Tangerang Selatan dan sekitarnya.

Kini Datik Batik menghadirkan beragam produk, mulai dari kain, dress, kemeja, outer, hingga aksesori seperti kipas tangan. Semua dibuat dengan metode hand-printing, cap, maupun tulis. Nama yang diusung pun sederhana namun sarat makna. ‘Datik’ berasal dari nama sang pendiri, sedangkan ‘Batik’ menggambarkan produk utama yang dihasilkan. Dari sinilah lahir sebuah brand yang khas, mudah diingat dan berkarakter.

“Ciri khas Datik Batik terletak pada motifnya yang mengusung kearifan lokal, dipadukan dengan nuansa modern. Datik banyak terinspirasi dari simbol-simbol khas Tangerang Selatan, mulai dari anggrek vandoglas, kacang, kopi, bambu, hingga rumah blandongan”, ungkap Datik.

[ad_2]