Nama Franco Baresi dan Paolo Maldini selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah AC Milan.
Keduanya merupakan ikon Rossoneri yang menghabiskan hampir seluruh karier profesionalnya bersama klub, mengangkat trofi bergengsi, serta mengenakan ban kapten dalam era yang berbeda.
Namun, bagi kelompok suporter garis keras Curva Sud, hanya ada satu sosok yang layak menyandang predikat “Il Capitano” atau kapten sejati AC Milan, yakni Franco Baresi.
Bagi mayoritas pendukung AC Milan, baik Baresi maupun Maldini merupakan legenda yang memiliki kontribusi luar biasa. Akan tetapi, Curva Sud memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan Franco Baresi.
Sosok yang mengenakan nomor punggung 6 itu dianggap sebagai simbol loyalitas mutlak, kepemimpinan, serta identitas Rossoneri. Karena alasan tersebut, hingga kini Curva Sud tetap mempertahankan keyakinan bahwa Baresi adalah satu-satunya kapten sejati dalam sejarah klub.
Mengapa Curva Sud AC Milan Menganggap Franco Baresi Sebagai Kapten Sejati?
Franco Baresi menghabiskan seluruh karier profesionalnya bersama AC Milan sejak debut pada 1978 hingga pensiun pada 1997. Selama hampir dua dekade, ia menjadi pemimpin di lapangan dan mengantar Rossoneri meraih berbagai gelar domestik maupun Eropa.
Di mata Curva Sud, kepemimpinan Baresi melampaui sekadar ban kapten. Ia dipandang sebagai representasi nilai-nilai AC Milan, mulai dari loyalitas, dedikasi, hingga pengorbanan untuk klub.
Bahkan setelah pensiun, nomor punggung 6 miliknya dipensiunkan oleh AC Milan sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap salah satu pemain terbaik dalam sejarah klub.
Momen Perpisahan Paolo Maldini yang Memicu Kontroversi
Perbedaan pandangan itu terlihat jelas saat Paolo Maldini menjalani laga kandang terakhirnya bersama AC Milan pada 24 Mei 2009.
Di tengah seremoni perpisahan salah satu bek terbaik sepanjang masa, Curva Sud justru membentangkan kaus raksasa bernomor 6 milik Franco Baresi. Bersamaan dengan itu, tribun ultras menyanyikan chant terkenal, ‘C’è solo un capitano’ yang artinya ‘Hanya ada satu kapten’.
Chant tersebut secara eksplisit merujuk kepada Franco Baresi sebagai sosok yang mereka anggap sebagai kapten sejati AC Milan.
Aksi tersebut menjadi salah satu momen paling kontroversial dalam sejarah klub karena terjadi saat penghormatan kepada Maldini, yang saat itu menutup karier setelah lebih dari dua dekade membela Rossoneri.
Hubungan Paolo Maldini dan Curva Sud Sempat Memanas
Kontroversi itu tidak muncul secara tiba-tiba. Hubungan antara Paolo Maldini dan sebagian kelompok Curva Sud telah mengalami ketegangan sejak beberapa tahun sebelumnya.
Mengutip Milan News, perselisihan bermula setelah Maldini beberapa kali mengkritik sikap sebagian ultras terhadap tim, termasuk komentar yang dianggap menyinggung kelompok suporter setelah beberapa momen sulit yang dialami AC Milan.
Ketegangan tersebut memuncak pada laga perpisahannya di San Siro, ketika Curva Sud memilih memberikan penghormatan kepada Franco Baresi sambil menyampaikan kritik terhadap Maldini melalui sejumlah spanduk.
Usai pertandingan, Maldini merespons singkat kontroversi tersebut dengan mengatakan bahwa dirinya bangga tidak menjadi bagian dari kelompok yang mencemoohnya, sebuah pernyataan yang kemudian menjadi salah satu kutipan paling dikenal dalam sejarah hubungan antara sang legenda dan Curva Sud.
Rekonsiliasi Terjadi, Tetapi Status Baresi Tetap Tidak Tergantikan
Beberapa tahun setelah pensiun, hubungan Paolo Maldini dengan sebagian pendukung AC Milan perlahan membaik ketika ia kembali ke klub sebagai direktur.
Meski rekonsiliasi terjadi dan hubungan dengan banyak elemen suporter menjadi lebih positif, satu prinsip tetap bertahan di kalangan Curva Sud, yakni keyakinan bahwa Franco Baresi adalah “Il Capitano” yang sesungguhnya.
Bagi mereka, penghormatan terhadap Maldini sebagai legenda tidak mengubah posisi simbolis Baresi sebagai figur nomor satu dalam sejarah kepemimpinan AC Milan.
Franco Baresi dan Paolo Maldini Tetap Menjadi Dua Ikon Terbesar AC Milan
Terlepas dari perbedaan pandangan di kalangan suporter, tidak dapat dipungkiri bahwa Franco Baresi dan Paolo Maldini merupakan dua pemain terbesar yang pernah dimiliki AC Milan.
Franco Baresi menjadi kapten era kejayaan Rossoneri di bawah Arrigo Sacchi dan Fabio Capello, sementara Paolo Maldini meneruskan warisan tersebut hingga pensiun pada 2009 dengan rekor 902 penampilan, terbanyak dalam sejarah AC Milan.
Nomor punggung 3 milik Maldini juga dipensiunkan oleh klub sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya.
Perdebatan mengenai siapa kapten terbesar AC Milan kemungkinan akan terus menjadi bahan diskusi di kalangan tifosi. Namun, bagi Curva Sud, jawabannya tidak pernah berubah.
Hingga kini mereka tetap mempertahankan slogan yang menggema sejak bertahun-tahun lalu: “C’è solo un capitano”, sebuah penghormatan yang mereka dedikasikan untuk Franco Baresi sebagai simbol abadi kepemimpinan Rossoneri.